siapa bilang aku harus menunggu angin untuk terbang?

selamat datang, selamat berhembus....

Archive for March 2014

definisi


.

Buat apa memaksakan diri untuk mempunyai batasan?
                Dengan menetapkan diri untuk tidak mempunyai batas sudah merupakan batas itu sendiri…
               
                Dan mengenalmu rasanya menjadikanku bebas tanpa batas.
                Terima kasih sudah menemani ku bermimpi…               

                Kesenangan kompulsif muncul dari rasa ecstacy yang berlebih…
                Seperti mata yang tidak bisa tertidur lantaran kadar kafein meningkat membungkus darah dalam giat, memompa jantung agar terus berdegup
                Deg..deg…deg…..
Dengan irama yang terus berpacu, meningkat yang konstan, semua hanya karena rasa senang akan memikirkanmu saja.
                Seperti mulut yang kehilangan kata. Tiba-tiba semua diksi di dunia tidak bisa menggambarkan rasaku akan dirimu…
melebihi segala definisi, melecehkan segala tata bahasa. Aku tiba-tiba bisu karena kesenangan akanmu…
                Seperti rasa senang itu sendiri tak sanggup menampung sensasi ini…

                                Lalu, harus kunamai apa rasa ini?

                Adakah yang bisa menjadi definisi?

Rindu Bulan pada Matahari


.


            Ada sendu yang tercipta tatkala melihat bulanmu yang pias. Tak seperti biasanya kau bertahan sampai sesiang ini, menyisakan pudar garismu yang dibakar matahari, mengguratkan keenggananmu yang padu berteriak kencang menjerit tak mau berlalu.

            Ada rindu yang membakar, memaksa, membiarkan kita bertemu, walau aku harus hangus dalam pias, walau aku harus pudar kehilangan batas. Rindu yang bergulir melebihi lamanya waktu kita terpisah, tak peduli seberapa kukejar, seberapa berkalinya menunggu, kau tetap akan menjelma pagi sementara malam memerangkap dan menghidupkanku.

            Keharuan bercampur di udara, menusup ke tiap pori gemawan berkumpul, meresapkan dalam birunya yang biru langit. Bahkan merambat erat pada panas, silau namun tak menyengat.
            Ada isak tertahan yang tertinggal dari perhatian. Pun seumpama dunia sadar, ia hanya terisak samar…

            Mentari.

            Bagaimana aku harus datang menghunuskan nyala dalam kelam duniamu tempat kau bisa bernafas, sedang aku meradang merindukanmu…yang bila kita bertemu, itu berarti aku harus membunuhmu….
            Seperti sekarang, kau datang dalam sisa-sisa remang, lalu habis tandas piaslah kau dalam terangku.
Tahukah kau rembulan?
Aku lebih memilih leleh dalam panasku terengah berlari sekuat tenaga menuju senja, supaya aku bisa mendapat sekedar siluetmu…
Betapa akan melegakan daripada aku harus melihatmu, menungguku, menantiku melenyapkanmu dalam terangku…kau memudar…

Dan cintakukah yang melenyapkanmu?