siapa bilang aku harus menunggu angin untuk terbang?

selamat datang, selamat berhembus....

surat tengah pagi


.

Surat di malam buta

Sekarang sudah jam setengah satu pagi. Tangannya masih saja menari di atas keyboard laptopnya. Hah…entah apa yang ditulisnya. Susah menebak mata itu jika sudah berada di depan laptopnya. Berwajah serius yang jarang terlihat tiap harinya.

Adalah suatu kesalahan untuk penasaran dengan pribadinya, adalah suatu kesalahan untuk ingin menemukan pecahan puzzle yang baru tiap masanya. Adalah suatu godaan untuk menyelami pikirannya. Dia begitu nyata sekaligus bias, seperti kekhawatiran yang kutangkap tetapi serupa keramahtamahan antar sahabat. Dia seperti teka-teki yang menggoda untuk dipecahkan, tapi saat potongan puzzle ada ditangan, ditiupkannya angin kencang lalu potongan itu berterbangan.

            Hah…sebenarnya apa yang aku cari dari seorang yang telah menjaga hati?

Kenyataan itu bukannya layar buram yang mengganggu pandangan. Ia ‘nyata’ seperti dinginnya air yang menyapa saat mandi di padi buta. Seperti panas terik di pantai di jam 12 siang tanpa penghalang. Seperti resep dari dokter yang mengingatkan ku untuk minum obat 3 x sehari, ya rutin, yang bila dilewatkan penyakit ini tak akan sembuh atau malah akan sering kambuh. Kau. Kaulah penyakitnya, dengan mengingatmulah segala gejalanya. Dan bahkan kenyataan bahwa kau menjaganya tak menarik surut pesonamu.

            Sebenarnya apa yang membuatku terpesona?

Kau, pemuda bermulut manis. Bermulut manis menjadikanmu tahu caranya berlaku manis, tanpa mengurangi candamu dan kritikan yang sadis. Anehnya begitu banyak refleksi yang kulihat padamu, tanpa adanya niatan menyama-nyamakan dalam setiap ketidaksengajaan yang seringnya datang. Kau teman diskusi yang bahkan tak akan selesai jika kita berbincang sampai pagi. Tapi tetap kau menyimpan misteri, menarik jauh diri setelah memanjakan dan melenakan. Seperti mengucapkan selamat tinggal sambil menarik ujung bajuku tak mau ditinggal.

            Dan sebenarnya sinyal apa yang sedang saling kita kirimkan?

Dan bila ini hanya pesona kekaguman, maka kita menjadi pengagum no.1 dari diri kita masing-masing. Tak akan ada jalan akhir, tak ada juga penengah. Kisah kita cuma kisah. Sebuah potret waktu pada kepingan kenangan masing-masing. Fragmen yang tak tersambung maupun terputus. Kuncup yang tak berbunga maupun tak pupus. Kita akan bersinar dengan pesona kita masing-masing.
           

Your Reply