purnama kali ini, perahuku tak menepi....
secarik kertas usang kubuka pelan-pelan. baru saja 5 menit yang lalu aku berhasil mengeluarkannya dari botol kecil yang mengapung disamping perahuku yang mengalun pelan karena kali ini layar urung dinaikkan.
kubentangkan ketas itu hati-hati, ya...sudah usang, banyak huruf yang hilang disana. tapi bukannya tak terbaca, masih bisa terasa gurat-gurat kata pada kertas itu. lucu..sebuah lagu atau puisi?
bukan...
ini undangan
undangan sirkus...
sirkus yang lucu itu
tadinya aku tak mau datang karena janji purnama ini akan pulang ke daratan...
apalagi harus ke sirkus?
tapi badai mematahkan tiang perahu kertasku, dan disinilah...terdampar di perahu paling megah, dengan tenda sirkus besar diatasnya dan juga sirkus lucu tadi di dalamnya...
jadi tunggu saja di sana, daratan purnama depan,
aku akan pulang setelah merobek atap tenda dan mencabut tiang pancang sirkus lucu tadi..
jahat?
biar....
akan kubuat perahu ini berlayar lagi setelah sirkus menahanku tepati janji..
tunggu aku di daratan purnama depan...
